Menjadi orangtua pada zaman ini menjadi lebih sulit jika dibandingkan dengan dekade-dekade sebelumnya. Memang setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Namun banyak pakar baik dalam dan luar negeri mengakui tantangan yang dihadapi orangtua saat ini begitu kompleks.

Tuntutan pekerjaan yang tinggi, lokasi rumah – kantor yang jauh, belum lagi kemacetan yang dihadapi membuat orangtua kelelahan dan terpaksa memberikan waktu “sisa” untuk anak-anak mereka. Belum lagi orangtua harus “bersaing” dengan pengaruh luar seperti: gadget, games, internet dan lainnya membuat tantangan yang dihadapi orangtua menjadi semakin kompleks.

Dengan keterbatasan energi dan waktu yang dimiliki, kita harus memiliki strategi untuk “menang” dari segala macam bentuk pengaruh luar tersebut. Kita harus memberikan PENGARUH dan menyiapkan anak-anak kita menjadi pribadi yang mandiri, berdampak positif bagi generasinya, dan pada akhirnya menjadi pribadi yang menyenangkan hati Tuhan.

Strategi utama yang perlu dilakukan adalah kita sebagai orangtua perlu terlibat aktif dalam pembentukan HATI NURANI anak. Mengapa Hati Nurani ini penting? Karena Hati Nurani adalah pusat seluruh kehidupan dan perilaku manusia. Membentuk Hati Nurani berarti membentuk gudang moral anak dengan moralitas atau nilai-nilai yang sesuai dengan kehendak ALLAH. Jadi bukan sekedar membesarkan anak yang secara lahiriah/ kasat mata bisa berbuat hal yang baik.

Ada 2 (dua) macam Hati Nurani:

  • Hati Nurani yang benar/ positif
  • Hati Nurani yang sifatnya prohibitif

Ciri-ciri Hati Nurani yang sifatnya prohibitif adalah anak berbuat hal yang benar untuk menghindari hukuman; sedangkan Hati Nurani yang positif adalah anak berbuat hal yang benar karena itu tahu hal itu adalah hal yang BENAR, yang menyenangkan hati Tuhan dan dapat memutuskan untuk tidak melakukan sesuatu hal karena anak tahu hal itu SALAH.

Sikap Hati Nurani yang positif ini, yang harus kita tanamkan pada anak-anak kita. Jika kita telah berhasil menanamkan sikap Hati Nurani yang positif, anak-anak kita akan mampu membuat keputusan yang BENAR secara mandiri meski kita tidak ada disamping mereka. Kekuatiran kita terhadap pengaruh negatif dari luar akan jauh berkurang.

Beberapa tips membentuk sikap Hati Nurani yang positif:

  • Orangtua perlu menjadi teladan dari prinsip-prinsip yang diajarkan. Teladan memberi kredibilitas pada instruksi yang kita berikan.
  • Orangtua perlu fokus pada apa yang seharusnya dilakukan, tidak melulu pada hal-hal yang jangan dilakukan.
  • Orangtua perlu memberitahukan alasan moral dibalik instruksi yang diberikan.
  • Orangtua harus menuntut anak berperilaku benar tanpa memandang jenis kelamin/ temperamen/ usia anak.
  • Komunikasikan hal-hal ini pada saat Non-konflik.
  • Dan diajarkan berulang-ulang (Ulangan 6 : 4 – 9)

Beberapa tips membentuk sikap Hati Nurani yang positif:
(1) Orangtua perlu menjadi teladan dari prinsip-prinsip yang diajarkan. Teladan memberi kredibilitas pada instruksi yang kita berikan.
(2) Orangtua perlu fokus pada apa yang seharusnya dilakukan, tidak melulu pada hal-hal yang jangan dilakukan.
(3) Orangtua perlu memberitahukan alasan moral dibalik instruksi yang diberikan.
(4) Orangtua harus menuntut anak berperilaku benar tanpa memandang jenis kelamin/ temperamen/ usia anak.
(5) Komunikasikan hal-hal ini pada saat Non-konflik.
(6) Dan diajarkan berulang-ulang (Ulangan 6 : 4 – 9)

Sebagaimana kata pepatah “Apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai”. Mari bersama-sama, kita menaburkan benih-benih Hati Nurani positif pada anak-anak kita agar kita menuai kebaikan pada generasi yang akan datang.

(Bety Diana,M.Psi., Psikolog)